BERITANU.NET, JAKARTA- Berlarut-larutnya penyelesain konflik di PBNU antara Rais Am, KH Miftachul Akhyar, dengan Ketua Umum, Gus Yahya, memunculkan kegelisahan, pro dan kontra di kalangan Nahdliyyin, baik di struktural maupun di kultural. Banyak pihak yang membuat cara agar konflik ini bisa selesai dengan baik dan aspiratif, seperti langkah yang diambil oleh Nahdliyyin United, gerakan kultural Nahdliyyin, dengan menyelenggarakan polling.
“ Polling ini diadakan oleh Nahdliyyin United karena NU organisasi Islam terbesar di Indonesia dan di dunia, karenanya para pihak yang berkonflik di PBNU dan yang menengahinya harus mendengar aspirasi warganya yang jumlahnya ratusan juta ini,” ujar Leader Nahdliyyin United, Muhammad Rofi`i Mukhlis alias Cak Ofi, dalam siaran persnya.
Lebih lanjut, Cak Ofi menyatakan bahwa polling Nahdliyyin United ini hanya ada tiga pertanyaan saja, yaitu: Pertama, apakah Anda mendukung kebijakan Rais Am dengan Memakzulkan Ketua Umum PBNU?; kedua, apakah Anda mendukung Ketua Umum PBNU, Gus Yahya yang menolak pemakzulannya?; dan ketiga, apakah Anda tidak mendukung keduanya?
“Polling ini diisi oleh responden dari Nahdliyyin yang struktural dan kultural seluas-luasnya selama dua minggu sejak berita ini ditayangkan dengan mengirim jawabannya ke nomor HP WA 0823-2325-7744,” ujar Cak Ofi.
“Hasil polling ini akan menjadi refrensi pemegang hak suara di muktamar NU, yaitu PW dan PC, PCI, dalam menentukan sikap untuk keberlangsungan perkumpulan NU dengan rais am dan ketua umum yang memiliki legitimasi kuat dan mandat penuh,” pungkas Cak Ofi.
Seperti banyak diberitakan oleh media, sejak Musyawarah Kubro di Pondok Pesanten Lirboyo, Jawa Timur dengan tema Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada Ahad (21/12/2025) sampai berita ini diturunkan belum ada tanda-tanda islah atau perdamaian dari dua kubu yang berkonflik, malah terlihat konflik akan berlangsung panjang. ***












